Kisah ini diceritakan oleh Ubaidillah Nashwan, mahasiswa Program Studi Teknik Mesin Kilang. Kejadiannya terjadi pada Hari Sabtu, tanggal 6 September 2024, tepat pukul 00.00 WIB di Asrama Vyatra. Menurut cerita Ubaidillah, “Saat itu saya sedang menonton film horor bersama teman sekamarnya, saya tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang masuk ke dalam telinga. Awalnya, saya kira hanya ulah iseng teman untuk menambah keseruan suasana, namun tak lama kemudian saya menyadari benda asing tersebut benar-benar berada di dalam telinganya. Saya panik, dan segera menuju kamar mandi dan mencoba mengeluarkan benda tersebut dengan cara memasukkan air ke dalam telinga serta mengayunkan kepala, tetapi semua usaha tidak membuahkan hasil. Rasanya tidak nyaman, sampai sekitar pukul 01.00 WIB, saya mulai merasakan gerakan aneh dan mendengar suara-suara yang tidak biasa dari dalam telinganya, sehingga membuatnya semakin khawatir.”
“Saya minta bantuan teman-teman untuk melihat telinga saya, dan ternyata mereka menemukan bahwa yang masuk ke dalam telinganya adalah seekor jangkrik,” lanjut Ubaidillah. Keadaan menjadi semakin tegang saat jangkrik itu terus bergerak dan mengeluarkan suara, sehingga menyebabkan rasa sakit yang cukup menyiksa. Dengan sigap, teman-temannya berupaya mencari cara untuk mengeluarkan jangkrik tersebut, dan setelah berbagai usaha, mereka akhirnya berhasil mengeluarkan sebagian dari tubuh jangkrik yang sudah mati. “Meskipun separuh jangkrik masih tersangkut, saya sedikit lega karena serangga itu tidak lagi bergerak atau bersuara,” imbuhnya mengingat kejadian itu
Pada pukul 02.00 WIB, teman-teman Ubaidillah menghubungi pamong dan pihak poliklinik untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut. Ubaidillah segera dibawa ke rumah sakit PKU dan dirujuk ke Rumah Sakit Muhammadiyah. Namun, kedua rumah sakit tersebut tidak dapat mengeluarkan sisa jangkrik karena prosedur ini memerlukan penanganan dari dokter spesialis THT, dan disarankan agar ia menunggu hingga hari Senin untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Karena merasa waktu tunggu terlalu lama, akhirnya ia mendapatkan izin darurat (SIJ) untuk pulang ke rumah agar segera mendapatkan perawatan di rumah sakit terdekat. Setelah menjalani prosedur medis yang sesuai, jangkrik tersebut berhasil dikeluarkan sepenuhnya dan kondisinya membaik, sehingga pada hari Minggu ia kembali ke asramanya.
“Insiden ini mengajarkan saya, bahwa kemasukan serangga ke dalam telinga bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, sehingga penting untuk tetap tenang dan tidak mengambil tindakan yang dapat memperburuk keadaan, seperti mencoba memasukkan benda asing ke dalam telinga. Respons cepat dari pihak poliklinik asrama dan upaya bersama teman-temannya sangat membantu dalam menangani situasi darurat tersebut, sehingga semoga kejadian serupa dapat dihindari di masa mendatang melalui langkah-langkah pencegahan yang lebih baik,” pungkas Ubaidillah. (Ubaidillah Nashwan, drm, https://akamigas.ac.id/)
WhatsApp us